Rabu, 24 April 2013

BERLOMBA-LOMBALAH KAMU DALAM BERBA(HA)GI(A)


Tidak lama lagi kita akan kedatangan  tamu yang mulia lagi terhormat, bulan Ramadhan yang senantiasa dirindukan kedatangannya dan disayangkan kepergiannya. Bulan yang datang dengan berjuta berkah dan magfirah yang akan membersihkan noda-noda dalam jiwa sang pendosa. Ramadhan adalah kekasih hati, ia bagaikan darah segar yang membangkitkan kembali semangat yang mulai mengendor, ia ibarat oase di tengah padang sahara pelepas dahaga bagi sang pengembara di bawah teriknya sang mentari.

Kami yakin dan percaya bahwa teman-teman sekalian adalah termasuk golongan orang-orang yang memiliki semangat kompetisi untuk menjadi pribadi yang lebih unggul di bulan Ramadhan. Bulan di mana saatnya kita semua untuk lebih giat lagi berlomba-lomba mengumpulkan tabungan ekstra untuk kehidupan abadi kelak. Kita semua berharap bisa bertemu dengan bulan suci Ramadhan nanti, bersenang hati menyambutnya dan antusias beribadah dalam menjalani keseluruhan ibadah yang akan dimultigandakan pahalanya oleh Allah SWT.

Ada begitu banyak hikmah di bulan Ramadhan. Salah satunya seperti yang termaktub dalam H.R. Ibnu Khuzaimah mengenai khutbah Rasulullah dalam menyambut bulan suci Ramadhan, yang menyebutkan bahwa Ramadhan itu adalah bulan memberikan pertolongan dan bulan Allah memberikan rezeki kepada mukmin di dalamnya. Barangsiapa memberikan makanan berbuka kepada orang yang berpuasa, yang demikian itu adalah pengampunan bagi dosanya dan kemerdekaan dirinya dari neraka. Orang yang memberikan makanan itu memperoleh pahala seperti yang diperoleh orang yang berpuasa. Allah memberikan pahala itu kepada orang yang memberikan walaupun sebutir korma, atau seteguk air, atau sehirup susu. Dialah bulan yang permulaannya Rahmah, pertengahannya ampunan, dan akhirnya kemerdekaan dari neraka. Barangsiapa yang meringankan beban seseorang (yang membantunya) niscaya Allah mengampuni dosanya. Barangsiapa memberi minum orang yang berpuasa, niscaya Allah memberi minum kepadanya dari air kolamku dengan suatu minuman yang dia tidak merasakan haus lagi sesudahnya, sehingga dia masuk ke dalam surga. Begitu luar biasa ya kawan balasan dari Allah dari suatu kebaikan yang kita tebarkan dan berbagi merupakan caranya berbahagia dan membahagiakan.

Media untuk Eksis



Sejujurnya saya adalah orang yang termasuk introvert, yang tidak terlalu bisa mengekspresikan diri sebegitu luwesnya di muka umum. Atau bahasa anak sekarang, 'kurang eksis'. Namun, pengaruh hobi saya dalam membaca buku pengembangan pribadi, motivasi, entrepreneurship, termasuk biografi orang sukses, membawa saya untuk bisa mengekspresikan diri dalam bentuk konkret yang lain, yaitu tulisan. Saya tidak begitu sering menulis sebuah cerita panjang, namun ketika mood sedang sangat baik, hal itu seperti injeksi yang sangat besar bagi saya untuk mengisi waktu senggng saya dengan membuat tulisan seperti itu. Lain halnya kalau hanya sekadar menulis status di akun Facebook, Twitter, dan BBM. Kalau untuk ketiga ini, bisa dikatakan hampir tiap jam saya sempatkan untuk melakukannya. Haha…



Pernah salah satu tulisan saya yang berisi pengalaman pribadi dengan disisipkan konten mengenai pengembangan pribadi, saya share di Note Facebook lalu saya tag ke beberapa teman. Senang rasanya ketika ada yang me-like, memberikan komentar positif, membuat mereka terhibur, tertawa 'ngakak', bahkan terinspirasi membuat tulisan juga. Jadi terasa tulisan saya itu 'sesuatu sekali'. Hal tersebut otomatis menambah kepercayaan diri saya sehingga saya menamakan terapi tulisan ini sebagai 'Terapi Menulis, Media untuk Eksis'. Bagaimana tidak, karena terlalu seringnya saya update status yang berisi pandangan/filosofi hidup, kutipan kalimat motivasi, kata-kata bijak, dan petikan ayat Al-quran, banyak di antara mereka yang menjadikan saya 'tong sampah' untuk mereka mencurahkan masalah pribadi mereka. Lihatlah, dahsyat ya pengaruh tulisan kita. Selain bisa menumbuhkan kepercayaan diri kita, juga bisa mendapat kepercayaan dari orang lain untuk menjadi teman sharing, berarti mereka telah menambahkan nilai keberadaan kita. Bagi saya pribadi, hal tersebut juga membuat saya belajar untuk tidak cengeng dalam menghadapi masalah pribadi saya, karena toh banyak orang-orang di luar sana yang mungkin sedang menghadapi masalah yang jauh lebih besar daripada yang sedang kita hadapi.



‘Dari ratusan pengirim naskah ‘menerbitkan buku bareng Jonru’, naskah ini menjadi salah satu naskah terpilih untuk dimuat dalam buku antologi ‘Sembuh dan Sukses dengan Terapi Menulis’ karya Jonru Ginting.’


Tribute to Autism


Dalam Wikipedia disebutkan Autisme adalah suatu kondisi mengenai seseorang sejak lahir ataupun saat masa balita, yang membuat dirinya tidak dapat membentuk hubungan sosial atau komunikasi yang normal. Akibatnya anak tersebut terisolasi dari manusia lain dan masuk dalam dunia repetitive, aktivitas dan minat yang obsesif. (Baron-Cohen, 1993). Menurut Power (1989) karakteristik anak dengan autisme adalah adanya 6 gangguan dalam bidang: interaksi sosial, komunikasi (bahasa dan bicara), perilaku-emosi, pola bermain , gangguan sensorik dan motorik dan perkembangan terlambat atau tidak normal. Gejala ini mulai tampak sejak lahir atau saat masih kecil; biasanya sebelum anak berusia 3 tahun. Dalam tulisannya, Dr. Melly Budhiman SpKj, ketua YAI mengatakan ‘apakah penyebab autisme?’ Sampai saat ini tidak bisa dipastikan penyebab yang pasti. Teori sekarang adalah ada suatu kaitan erat antara faktor genetik dan lingkungan. Bukankah kita sekarang hidup dalam dunia yang kotor? Udara kita terpolusi oleh timbal dari knalpot mobil, emisi gas industri, asap asap bakaran. Binatang-binatang laut terpapar limbah industri yang banyak mengandung merkuri, begitu juga ikan di sungai, dimana di hulunya orang mendulang emas secara manual dengan memakai merkuri. Makanan anak-anak penuh dengan zat pewarna, perasa dan pengawet. Semua itu sangat beracun bagi otak yang sedang berkembang.

Tanggal 2 April diperingati sebagai hari autisme sedunia karena melihat setiap tahun jumlah penyandang autisme cenderung meningkat, tak terkecuali di Indonesia. Dan pada 5 Mei 2012, satu lagi pengalaman sekaligus pelajaran yang sangat berharga saya dapatkan. Ya, sangat berharga.  Walk for Autism & Autism Expo 2012. Satu lagi momentum indah tercipta di acara ini. Acara tahunan yang diisi dengan jalan bersama sekitar kompleks Epicentrum Walk, Kuningan, oleh para keluarga individu autistik, instansi pemerintah, sekolah, tempat-tempat terapi, serta sahabat dan pemerhati autisme. Setelah acara jalan bersama selesai, dilanjutkan dengan Hands Printing, yaitu mengundang para peserta yang hadir untuk mencetak ribuan telapak tangan besar dan kecil sebagai tanda dukungan terhadap penyandang autisme dan kepedulian pada masalah autisme di Indonesia. Terima kasih saya ucapkan kepada teman saya, @LannyMegasariyang telah memberikan informasi mengenai acara ini dan mengajak saya dan beberapa teman lainnya untuk menjadi relawan dalam acara yang diselenggarakan oleh YAI (Yayasan Autisma Indonesia) dan SIKIB (Solidaritas Isteri Kabinet Indonesia Bersatu) ini.  Ternyata masih banyak sekali orang-orang di sekitar kita yang masih perduli dengan adik-adik kita yang berkebutuhan khusus ini. Saat saya tiba di sana, sudah banyak sekali relawan berkaos kuning dan biru yang sudah dibagi menjadi beberapa kelompok sesuai dengan pengelompokkan tugas. Saya dan beberapa teman ditugaskan untuk membantu jalannya acara hands printing. Pencetakan ribuan telapak tangan di atas kain putih sepanjang 25 meter yang bertuliskan “Hands Supporting Autisme”. Tidak hanya telapak tangan para adik autistic, para orang tua serta kerabat lainnya juga mencetak telapak tangan di atas kain menggunakan cat yang telah disediakan panitia, dan tak ketinggalan, panitia termasuk relawan juga turut memberikan support kepada adik-adik ini melalui hands printing ini. Cukup haru melihat adik-adik penyandang autistic ini. Dengan keterbatasan yang mereka miliki, namun mereka memiliki semangat yang luar biasa untuk mengikuti acara tahunan ini. Saya membayangkan kehidupan sehari-hari pun pasti mereka jalani dengan penuh semangat pula. Terlebih lagi saya merasa sangat terenyuh ketika melihat ayah, ibu, kakak, dan adik mereka yang memberi support kepada anak atau saudara mereka. Mereka terlihat sangat sabar, telaten, dan tak nampak garis wajah yang mencerminkan rasa lelah dan kesah. Saya justru melihat wajah para keluarga yang riang dan penuh senyuman. Bentuk dukungan mereka sangat besar karena memang, peran mereka sangat besar dalam memberikan kasih sayang dan perhatian kepada adik-adik kita ini. Apakah autisme adalah kemauan mereka? Apakah autisme adalah pilihan hidup adik-adik kita? Bukan sama sekali. Itu semua sudah digariskan oleh Yang Maha Kuasa. Sesungguhnya Tuhan sangat menyayangi mereka.     


Autisme dapat terjadi pada siapa saja, tanpa membedakan warna kulit, status sosial ekonomi maupun pendidikan seseorang. Apakah penyandang autisme adalah insan yang tidak mampu berprestasi? Tidak juga. Sebagian dari mereka dapat mencapai pendidikan di perguruan tinggi. Bahkan ada pula yang memiliki kemampuan luar biasa di bidang tertentu (musik, matematika, menggambar). Contoh nyata yang saya lihat dalam acara tersebut adalah ketika ada seorang adik penyandang autistic yang begitu lincahnya menggerakkan jemarinya di atas tuts-tuts piano menjadi sebuah harmonisasi yang apik. Ia terlihat begitu senang, begitu ceria, dan bahagia. Selain itu ia juga menyumbangkan sebuah pertunjukkan pianonya untuk teman-teman yang berulang tahun pada hari itu. Ia sangat asyik, ketika diminta untuk mengakhiri pertunjukkannya pun, ia menangis. Sang ibu dengan sigap menenangkan anak tersebut. Dan saya merasa ‘kalah’ pada saat itu. Mungkin di satu sisi saya lebih beruntung dari anak tersebut, tapi di sisi lain apakah diri saya lebih baik dari anak tersebut? Apakah saya bisa bermain piano? Apakah saya bisa bemain alat music? Saya bahkan tidak bisa bermain alat musik walau sempat mencoba beberapa kali latihan. Ketika saya flashback kembali, bisa jadi barangkali saya juga kalah dari anak tersebut dalam memelihara antusiasme dalam diri ketika mencoba untuk bisa melakukan sesuatu. Pembelajaran yang saya dapatkan adalah baik dari adik-adik penyandang autism beserta keluarga adalah “Jangan pernah lelah bersyukur terhadap apapun yang kita hadapi”. Sesungguhnya nikmat dan kesukaran adalah ujian. Dalam nikmat kita diuji untuk senantiasa bersyukur, dan tidak ingkar. Dan dalam kesukaran kita diuji tentang kesabaran. Bukankah kesabaran itu buahnya selalu manis?! Kesabaran bisa jadi menjadi obat yang pahit yang memang harus kita telan, agar kita menjadi lebih baik.

Selain itu, kelebihan itu adalah anugerah. Karena berlebih, kita harus membagikannya. Dan kekurangan dalam diri ini bukanlah menjadi alasan bagi kita untuk meng-korting diri sendiri. Juga, kekurangan pada orang lain, bukan berarti kita boleh meng-korting mereka. Tega sekali ya, jika kita juga masih harus meng-korting-nya, padahal masih kekurangan. Indeed, every living thing has his/her special things. As a human being, we need to think deeply then realize it. God loves us in the matter of His ways.  I Love Allah too. ^^



 



 

Kamu dan Pilihanmu



Teringat khotbah Jumat lalu, Khatib menyapa para jamaah dengan sapaan “Hadirin umat Rasulullah yang terpilih dan terhormat”. Jadi bangga ya jadi umat Rasulullah. Berbicara mengenai 'terpilih', Jadi ingin rasanya membuat sebuah tulisan mini berikut ini. :)

Hampir dipastikan bahwa semua orang setuju dengan statement 'Life is Choice'. Ya, hidup memang penuh pilihan. Kalau berbicara pilihan, berarti kita berbicara di luar hal yang berifat kodrati. Kita tidak bisa memilih dilahirkan dari rahim ibu yang mana, dilahirkan sebagai pria atau wanita, atau hal lain yang sifatnya fitrah, tidak kita bisa ubah.

Ketika lahir kita pun merupakan manusia pilihan. Dari jutaan sel sperma, kita adalah pemenang yang telah berhasil berkolaborasi dengan sel ovum. Sebelum kita dilahirkan kebanyakan calon ayah/ibu sedang sibuk memilih. Kira-kira akan diberi nama apa sang buah hati kelak. Nama yang indah dan mengandung doa yang diharapkan terijabah kelak. Andai kita bisa menyimak ekspresi orangtua kita di kala memilih nama yang terbaik untuk kita ya :).

Dari saat kita dalam kandungan, dilahirkan, kemudian dibesarkan hingga remaja, orangtua sangat mendominasi atas pilihan kita. Tetapi secara sadar atau tidak kita juga telah belajar memilih pada saat itu. Ya, memang orangtua yang memilihkan sesuatu, tetapi ada saat kita mengatakan 'tidak mau', jawaban yang menandakan pilihan. Saat bayi pun, kita juga belajar memilih. Tentunya tidak secara verbal, tetapi dengan mobilitas tubuh, seperti tangisan, geleng-geleng kepala, atau gerakan kecil nan lucu lainnya. Seiring berjalannya waktu dan bertambahnya usia kita, hidup makin terasa begitu lapang. Ketika menengadah ke atas, kita melihat langit luas. Langit yang merepresentasikan tempat harapan, keinginan dan tujuan hidup yang menunggu untuk digapai terlebih dahulu. Saat mata terpanah ke depan begitu banyak jalan terbentang sebagai pilihan lintasan atas ikhtiar kita.

Pilihan tidak melulu soal hal-hal yang sifatnya massive (besar). Lihatlah pakaianmu hari ini, menu makan siang, sepatu dan parfum yang dipakai, tontonanmu di televisi, teman bermainmu atau teman belajarmu, juga buku bacaanmu.... itu semua juga pilihanmu.

Saat dewasa tibalah kita menjadi pribadi yang harus bisa memilih dengan logika dan hati nurani. Mulailah kita seperti dihadapkan oleh pilihan yang besar terkadang terasa sulit. Kita menjadi penuh pertimbangan dan enggan untuk gegabah. Ditambah lagi tiupan angin saran A sampai Z dari orang-orang sekitar, membuat proses pembidikan pilihan menjadi goyah, apakah bidikan tersebut sudah berada di posisi yang tepat dan apakah saat bidikan itu dilepas sudah di saat yang tepat. Mungkin mereka tahu dan dirimu sangat tahu, tetapi hanya Allah Yang Maha Tahu. Jadikan Dia sebagai tempat meminta petunjuk yang sesungguhnya sebelum menjatuhkan pilihan.

Terkadang kita merasa telah salah memilih lalu gagal bin galau. Ingatlah bahwa lebih baik gagal tetapi telah memilih, ketimbang tidak menentapkan suatu pilihan.Sudah jelas itu adalah kekalahan yang sesungguhnya.

Ketika dirimu merasa telah salah memilih. Jangan biarkan rasa sesal hinggap di hatimu dan merajai dirimu. Pasti ada pelajaran yang dapat dipetik. Itu semua proses belajar namanya. Belajar menjadi pemilih yang arif dan bijak. Memilih berarti berani mengambil tanggung jawab dan menerima konsekuensi, baik konsekuensi yang menyenangkan, maupun yang kurang menyenangkan. Nikmati saja, toh memang semua patut untuk disyukuri.

Pilihan yang dilandasi itikad baik, insha Allah juga berkat dorongan kekuatan Allah sehingga kita berani memilih. Jangan lupa ucapkan  'Bismillahirrahmanirrahim' sebelum memutuskan, dan terus lafazkan 'Alhamdulillahirabilalamin' ketika menjalankan.

Selamat memilih umat  Rasulullah yang terpilih dan terhormat :)

Selasa, 27 Desember 2011

Mengisi Liburan Sekolah

Libur telah tiba. Masa liburan sekolah adalah masa yang sangat dinantikan oleh anak-anak atau adik-adik kita yang masih bersekolah. Masa di mana mereka bisa beristirahat sejenak untuk melepas penat atas rutinitas sekolah yang satu semester ini telah mereka jalani, yang cukup menguras tenaga dan otak mereka. Banyak keluarga yang memanfaatkan waktu liburan dengan berwisata. Dengan berwisata, para orangtua dapat melihat keceriaan yang terpancar dari jiwa sang anak. Hal tersebut merupakan hiburan tersendiri bagi para orangtua. Berbicara tentang berwisata, para orangtua bisa merencanakan 'Jelajah Museum' sebagai wisata edukatif bagi sang anak. Jadi, selain anak-anak dapat berekreasi, mereka juga bisa mendapatkan pengetahuan dari bukti-bukti sejarah secara langsung dan nyata, yang belum tentu mereka bisa mendapatkan pengetahuan tersebut di bangku sekolah. Ada banyak sekali museum yang bisa dikunjungi. Salah satu yang bisa menjadi referensi adalah Museum Satwa yang terletak di Kota Batu, Jawa Timur. Obyek wisata ini berada sekitar 20 km sebelah barat Kota Malang dan kini menjadi salah satu icon baru wisata Jawa Timur. Museum Satwa merupakan bagian dari Jatim Park 2. Museum ini menyajikan satwa-satwa yang diawetkan dan fosil-fosil purba yang didatangkan dari berbagai Negara diseluruh benua, seperti benua Amerika, Afrika, Asia, Australia, Eropa, Artik, dan Antartika. Sesuai dengan tujuan didirikannya yaitu sebagai Lembaga Konservasi Ex-Situ Satwa Liar, maka seluruh satwa awetan yang ada di Museum Satwa diperoleh tidak dengan sengaja diburu tetapi diawetkan dari satwa yang telah mati. Selain itu Museum Satwa juga menyajikan replika satwa purba seperti Apatosaurus. Tyranosaurus-Rex, Stegosaurus, Mammoth, dan replika satwa purba lainnya. Obyek wisata ini memiliki 4 Gedung Utama (dengan latar belakang Gunung Panderman).

Minggu, 25 Desember 2011

Ini kendaraanku, Apa kendaraanmu?

Kamu tentu sangat setuju bahwa kendaraan diciptakan untuk memudahkan manusia menjangkau tujuan akhir mereka yang sepertinya tidak memungkinkan untuk dijangkau hanya dengan berjalan kaki. Pilihan berkendaraan jelas memberikan keuntungan dalam hal efektivitas waktu dan energi walaupun terkadang ada rupiah yang harus dibayar a.k.a ongkos. Pilihan berkendaraan pun bermacam-macam, ada yang lebih memilih bersepeda ria, bersepeda motor (termasuk ngojeg), naik bus (termasuk TJ), bajaj getar, mobil pribadi, taksi, dan ada juga kelompok roker (rombongan kereta). Semua tergantung kebutuhan dan fasilitas yang dimiliki tiap individu. Untuk tujuan baiknya, kalau pelajar pasti ke sekolah, mahasiswa ke kampus, dan pekerja pasti tujuannya ke kantor. Kalau yang bukan termasuk golongan ketiga penggiat di atas, yaaa ... mereka punya tujuan mereka masing-masing tentunya. Keinginannya pasti sama, yaitu sampai di tempat tujuan dengan selamat dan tidak terlambat.

Kalau gw sendiri termasuk pekerja yang menggunakan sepeda motor sebagai kendaraan untuk mencapai kantor. Jaraknya lumayan soalnya, dari Mampang/Tendean (Jakarta Selatan) ke Pondok Kelapa, Kalimalang (Jakarta Timur bentar lagi sampe Bekasi). Teman-teman juga pasti sudah punya pilihan kendaraan masing-masing dong ya. Nah, gw mau share nih beberapa hal yang pernah gw alami selama menggunakan sepeda motor dalam kurun waktu lebih kurang 6 bulan terakhir inilah. Berikut kisahnya ….. (maaf kalo kisahnya inkonsisten dan chunky---kepotong-potong)

Hal yang “paling” dalam berkendara sepeda motor yang pernah gw alami:

1. Paling ga suka kalo berada di tengah-tengah kendaraan lain yang sama-sama nglaksonin karena pengen nyalip. Gw praktis berada di posisi yang dilematis.

2. Paling disgusting pas lampu merah, ada mobil bak sampah yang airnya berceceran, aiiiiiiiiikkh baunya naujubile, menohok sampai ke peparu. Tapi harus tetap bersyukur Karena ini punya hidung masih bisa bedain mana bau Taman Bunga mana bau Bantar Gebang.

3. Paling deg-degan pas macet atau ketika lampu merah “tetanggaan” sama mobil tinja. Pada saat itu selalu berharap Final Destination memang merupakan 100% film fiksi yang gak ilmiah. Gak lucu aja kalo tetiba tangki mobilnya bocor. Uuugh....Apa kata dunia?!

4. Paling merasa kotor pas ditilang jual nama bokap yang juga polisi. Itu cukup merusak mood polantas loh...., terlihat dari bibirnya yang mengkrucut dan dahi yang mengerut. Sesungguhnya selalu ada cara yang baik dan lebih baik. Tapi, tak bisa disangkal juga ada cara yang buruk bahkan lebih buruk dalam menyelesaikan suatu kasus. Pada saat itu entah kenapa cara itu yang terlintas di kepala. Mungkin pengaruh tanduk dan ekor merah gw lebih dominan saat itu. Kalo cara yang baikknya kan ikuti aja prosedur persidangannya ya. Akan tetapi, ada juga cara yang lebih buruk, untungnya ga gw lakuin, yaitu selipin duit di STNK. Gw masih ga tega aja kl ternyata uang itu bisa menjadi tiket gw untuk terhindar dari persidangan. Ga tega kenapa? Ga tega karena ga mau aja nanti itu pak polisi ngasih makan anak istrinya dari uang suapan..heheheh (alibi). Eniwei, maafkan anakmu ini Papa. Semoga pasarannya tidak turun ya Pah. Ga lagi-lagi deh...(semoga) :( :) ;) ;p

5. Paling malu waktu kaki kelindes bajaj (ga komersil gitu loh). Pernah pas lagi lampu merah di daerah Manggarai, di sebelah kiri agak depan ada bajaj yang supirnya lagi mantengin lampu lalin (lalu lintas) untuk kembali ke warna hijau. Saat itu, gw juga menantikan hal yang sama. Kesalahan fatal yang menjadi musabab terjadinya insiden 'kakikukelibasbajaj' pada saat itu adalah kaki kiri gw parkir sembarangan. Pas lampu beralih ke warna hijau, sukses lah itu ban bajaj ngelindes kaki gua, di mana waktu itu gua pake sendal jepit pula. Dan abang bajajnya sontak melongok ke belakang (mungkin beliau berasa seakan-akan telah ngelintasin polisi tidur) dan gw ....stay cool, sok-sok'an tidak terjadi apa-apa sambil nahan rasa cenat-cenut di kaki selama perjalanan hingga tiba di rumah.

6. Paling shock ketika nabrak seorang wanita Tentara Nasional Indonesia - Angkatan Udara (TNI-AU), sebut saja Bunga (disamarkan), yang juga berkendara sepeda motor yang beruntungnya tidak berujung di kursi pelaminan. Sang korban pun juga bilang bahwa masih untung yang ditabrak dia, coba kalo orang lain yang juga memiliki profesi yang sama, ga tau deh. Hmm,, gw juga turut berpikir kemungkinan terburuk kalo hal itu benar terjadi. Bisa jadi gw diiket di turbin pesawat atau diterjunin dari ketinggian 30 ribu kilometer di atas permukaan laut, tanpa parasut dan pelampung. Eniwei, orang Indonesia memang pandai bersyukur ya. Sudah celaka namun masih aja bilang untung....Subhanallah (33x).

7. Paling sok bener ketika insiden rem mendadak. Kejadian kaya gini tak ayal yang belakang nabrak kendaraan yang ada di depannya (ya iyalah ya). Wkt itu gw yang nabrak. Dikit sih, cuma bikin plat nomor motor di depan gw agak meletot, plus bawaannya si korban yang ditaruh di depan motor, yaitu satu kantong plastik biru besar berisi pakaian mental ke luar arena. Lintasan pentalannya masih cukup terekam di memori ini. Masih inget pelajaran Fisika SMP ga??, yang judulnya GLBB (Gerak Lurus Berubah Beraturan), nah kaya gitu, coba bayangin sendiri. Padahal waktu itu gw juga lagi bawa satu kardus snack untuk acara kantor, yang gw taruh di depan dan diapit oleh kedua kaki. Jadi posisi waktu itu memang sedikit ngengkers. Lalu, dengan gentle-nya gw berhenti dan turunin standar satu, si korban juga melakukan hal yang sama—turunin standar satu. Gw, dengan segala kerendahan hati sambil agak membungkukkan badan, meminta maaf walau ternyata dia tak merespon, bahkan tak bersuara apa-apa. Si korban ambil itu dia punya barang dan gw betulin plat nomornya yang meletot tadi. Pas si doi mulai ngegas, gw melihat standar motornya belum dikembalikan ke posisi normal, dengan iba-nya gua ngejar tu motor sambil klakson-klakson dan teriak “Mas ...standar!!! Mas standarnya mas!!!”, tapi tetep aja dia gak denger, padahal gw dah ngelepas masker dan kaca helm dah gw buka. Tapi karena gw orang yang ambisius, gw terus mencoba mengejar. Namun, pengejaran gw sempat terhenti dikarenakan gw jg mendengar bunyi klakson dari pengendara lain yang ada tepat di belakang gw. Pas dia udah ada tepat berada di samping gw, si doi pun bilang sambil buka kaca helm “mas, standarnya!”. Omaigod, gw juga belon mengembalikan posisi standar gw ke awal. Mungkin ini yang disebut “maling standar teriak maling standar”.

8. Paling scary... (ngomongnya ala Syahrini) ketika ada penyebrang jalan yang seolah-olah gak tau kode etik menyebrang. TKP'a adalah daerah Kalimalang (rute harian Mampan-Kalimalang) sebelum lampu merah pertama kalo dari arah Cawang. Lagi asyiknya bermotor ria dengan jalan yang ga begitu padat, eeeh... tetiba ada seorang bapak berpakaian seperti dari sebuah padepokan tertentu (pakai baju dan celana hitam, ikat kepala dan ikat pinggang kain batik warna cokelat) menyebrang. Apa yang bikin gua terperangah????, beliau ini menyebrang sambil angkat Arit di tangan kirinya untuk nyetopin laju kendaraan sepeda motor gw. Astagaaaa, itu bikin gua takjub luar binasa. Gw kira selain Kapak Merah juga ada Arit Merah, itupun bukan di lampu merah sebenarnya. Syukur, praduga gua tak beralasan, ternyata memang beliau dari pinggiran Kalimalang yang ingin kembali ke rumah. Nampaknya abis babat taneman..huft.


So far, yang masih tebenang-benang sih ke delapan poin di atas ya soal berkendaraan yang gw alami 6 bulan terakhir ini. Tapi sob, ini cerita bukannya ga ad juntrungannya loh. Maaf, bukan bermaksud untuk menggurui, tapi mau share hal-hal yang mungkin memang butuh untuk di-share walaupun saya sebenarnya juga masih berproses. Kalaupun kurang berkenan dan mau di-remove ini note, it would be fine :). Tapi dah keburu dibaca setengah ya. Yaaa udah atuh sok lanjut dibaca aja...hehehehehehe.

Jadi teman-teman, seperti layaknya kamu memilih kendaraan untuk mencapai tempat tujuan kamu dengan selamat setiap harinya, sudahkah juga kamu memilih kendaraan yang tepat untuk mencapai tujuan hidup kamu--mari kita sebut dengan Dreams??? Jika belum, mari kita pikirkan dari sekarang, bagi yang sudah terus pelihara keyakinan kamu untuk pencapaiannya. Sudah sejelas apa Dreams yang telah lama kamu ingin capai? Atau bahkan kini sudah tertumpuk di sudut dengan lapisan debu yang bisa jadi terlupakan? Bisa jadi juga Dreams tersebut telah terkubur bersama asa yang putus, tekad yang mulai pudar, opini negatif orang sekitar, dan ketidakpercayaan diri kamu sendiri? Jika memang begitu ayo ingat kembali di sudut mana kamu menaruh Dreams tersebut, bersihkan debunya dan letakkan di tempat yang paling ekslusif yang kamu miliki. Gali kembali Dreams kamu yang sempat bersemayam di lubang yang salah, karena kamu seyogyanya meletakkan Dreams kamu di lubang harapan yang memiliki pencahayaan yang baik agar tetap tumbuh kemudian menghasilkan buah yang ranum yang bisa dinikmati pada saat panen.

Sentuh kembali tujuan akhir kamu, apakah pencapaian tersebut kamu dedikasikan untuk orang-orang terkasih dalam hidup kamu: ibu, ayah, adik, kakak, nenek, kakek, suami, isteri dan buah hati kamu; untuk orang-orang di sekitar kamu yang juga kamu sayangi; atau mungkin untuk tujuan-tujuan yang lebih konkret seperti kepemilikan rumah mewah, mobil mewah, perjalanan ke luar negeri, termasuk wisata rohani, menyekolahkan anak di sekolah internasional, dan lain sebagainya. Mulailah dari sekarang buat pola pemikiran kamu bahwa Life will be worth living if you think about “the way of life” instead of “how to life”. Jadi hidup ini bukan hanya memikirkan bagaimana cara untuk hidup, melainkan bagaimana membuat hidup ini menjadi lebih hidup. Mengenai kendaraan yang akan kamu pilih, tergantung dari diri kamu. Mengutip dari Om Mario Teguh, semua pekerjaan sesungguhnya bersifat netral. Semua tergantung dari yang menjalankan. Lakukan yang terbaik di setiap pekerjaan yang kamu miliki, maka hal itulah yang membuat kalian berhasil. Ingat, bukan dari pekerjaannya, tetapi cara kamu memperlakukan pekerjaan kamu.

Untuk menutup dan membuat seolah-olah cerita di atas memiliki korelasi dengan pembahasan ini (sepertinya memang ada sih ya), sesungguhnya tidak ada jalan yang rata. Banyak kerikil-kerikil kecil yang menyertai perjalanan kita selagi berkendaraan menuju Dreams kita. Sulit??? Ya, memang, tetapi tidak ada yang mustahil! Telisik kembali kata IMPOSSIBLE. Jika diuraikan justru menjadi I'M POSSIBLE. Mari kita jaga sikap positif kita, jangan sampai kita terhenti di perjalanan kita. Toh sukses datangnya tidak terduga. Bisa jadi ketika kita berhenti sebenarnya tinggal beberapa milimeter lagi kesuksesan itu kita capai. Semua pasti ada masanya, di mana kita menabur, memupuk, kemudian menuai.

NO ACTION NOTHING HAPPENS, DO ACTION MIRACLES HAPPEN.

Ceuuuumngaaadh Kakak!!! :D